Thursday, February 17, 2011

Apakah Muhammad Memperkosa Safiyah?

Diposting oleh Ali Sina pada 2 Januari 2011

Amir adalah salah satu dari sekian banyak orang Muslim yang menyurati saya, menantang saya berdebat. Saya mengatakan padanya bahwa saya hanya mau berdebat dengan para sarjana ternama, atau dengan orang-orang yang telah membaca buku saya. Amir setuju untuk membaca buku saya. Saya mengirimkannya edisi yang ke-4 dalam bentuk PDF. Setelah membacanya, nampaknya Amir telah meninggalkan Islam, atau sedang memikirkan untuk melakukannya. (lihat: about ). Tidak seorang pun yang membaca buku saya masih tetap percaya kepada Islam.

Kebanyakan orang Muslim yang menerima buku saya tidak pernah lagi menyurati saya. Saya yakin mereka menjadi takut dan kemudian mereka berhenti membacanya. Ada pula yang mengumpulkan keberanian untuk membacanya sampai selesai. Amir adalah salah satunya.



Ia mengajukan beberapa pertanyaan pada saya. Pada dasarnya ia ingin agar saya menjawab kritik yang tidak benar mengenai saya yang dilontarkan oleh Bassam Zawadi. Sejauh ini saya telah mengabaikan Zawadi karena sebenarnya artikel-artikelnya mengkriminalkan Muhammad dan mengkonfirmasi apa yang saya katakan. Namun demikian, bagi orang-orang yang tidak dapat melihatnya saya mengkhususkan diri dalam beberapa bulan berikut untuk meresponi Zawadi.

Berikut ini adalah surat Amir dan jawaban saya atas pertanyaannya yang pertama. Ini soal Safiyah, perempuan Yahudi yang menjadi istri Muhammad. (lihat di: “Safiyah, the Jewish wife of Muhammad” – http://indonesian.alisina.org/?p=21). Kisahnya ada disini: here.

Halo Bpk. Ali Sina.

Sejujurnya saya hanya dapat mengatakan pada anda: YA buku anda telah menggoyahkan iman saya yang kecil dan dangkal kepada Islam. Jadi sekarang yang saya inginkan adalah agar anda memberikan pada saya tanggapan anda, satu demi satu, atas argumen-argumen berikut ini, yang disampaikan oleh orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang lebih banyak dan mendalam mengenai Islam, untuk setiap masukan, seperti yang telah anda janjikan, dan membawa saya benar-benar meninggalkan Islam, ATAU membiarkan saya tetap dalam keraguan dan hidup yang menyedihkan yang akan membuat saya berkonfrontasi dengan pikiran saya, keluarga dan masyarakat. Namun Pak Sina, saya mendesak anda untuk melakukan permintaan saya yang pertama.

Tuduhan No.1

Seorang Pemerkosa

Menarik sekali bila memperhatikan bahwa menurut Ali Sina orang yang “diperkosa” adalah Safiyyah, salah seorang istri Nabi Suci. Kita tidak perlu menanggapi klaim-klaim bodoh seperti itu, yang perlu kita lakukan adalah membahas hal-hal yang lebih penting. Namun, jika ada orang yang berminat untuk mengetahui tentang Safiyyah silahkan membaca artikel yang luar biasa ini yang ditulis oleh Saudara Bassam Zawadi:

http://www.answering-christianity.com/bassam_zawadi/safiyyah_the_wife_of_the_prophet.htm

Dalam tanggapan ini, Basam Zawadi mengutip berbagai hadith untuk membuktikan tidaklah adil jika mengatakan bahwa pernikahan Muhammad dengan Safiyah adalah perkosaan dan bahwa sesungguhnya wanita itu mencintainya. Inilah yang ditulisnya.

Zayd ibn Aslam mengatakan, “Ketika Nabi sakit parah dan berada di ujung ajalnya, istri-istrinya berkumpul di sekelilingnya. Safiyyah bint Huyayyay mengatakan, ‘Wahai Utusan Allah, demi Allah, saya ingin menggantikan tempatmu.’ Mendengar perkataannya itu, istri-istri Nabi mengedipkan mata padanya. Nabi melihat mereka dan berkata, ‘Cucilah mulut kalian’. Mereka berkata, ‘Untuk apa, Utusan Allah?’ Ia berkata, ‘Karena kalian mengedipkan mata padanya, demi Allah, ia mengatakan kebenaran’”. (Ibn Sa’d, Tabaqat, vol. 8, h.101, terdapat dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.175)

Agar dapat memahami dinamika situasi tersebut, kita harus melihat melampaui kata-kata yang tertera dalam hadith. Setiap episode atau hadith, yang diisolir, hanya bermakna sedikit. Hanya jika kita menyatukan semuanya, seperti potongan-potongan teka-teki gambar, barulah gambar yang sebenarnya akan kelihatan. Safiyah adalah seorang tawanan. Ayahnya dan pamannya dipenggal, dan suaminya disiksa sampai mati. Semua saudara laki-lakinya dan kerabat pria dibantai dan semua kerabatnya yang perempuan diperbudak oleh orang Muslim. tinggallah ia sendirian. Ia terperangkap ditengah-tengah musuh.

Apakah masuk akal jika orang dalam situasi seperti itu mencintai orang yang menangkapnya dan membunuh orang-orang yang dikasihinya? Tentu saja tidak!

Sains telah mengalami kemajuan di segala bidang termasuk psikologi. Banyak teka-teki yang membingungkan orang selama berabad-abad, terutama mengenai Muhammad dan kehidupannya, kini dapat dijelaskan melalui penemuan-penemuan dalam psikologi. Buku saya, “Memahami Muhammad” adalah sebuah psikoanalisa mengenai Muhammad. Sejauh yang saya ketahui, ini adalah buku pertama yang membahas subyek ini.

Jawaban atas pertanyaan ini ada dalam bab 8 edisi kelima buku saya. Anda, Amir, membaca edisi keempat. Jadi, saya akan menjelaskannya secara singkat.

Cameroon Hooker, seorang sosiopath (orang yang mempunyai masalah sosial), menculik Colleen Stan, seorang gadis berusia 20 tahun, dan menyembunyikannya dalam sebuah kotak menyerupai peti mati di bawah tempat tidurnya selama 7 tahun. Setelah ia berhasil melarikan diri, ia tidak melaporkan Hooker kepada pihak berwajib. Pria itu ditangkap setelah istrinya mengakui perbuatan suaminya kepada seorang pastor, yang kemudian menasehatinya agar melapor kepada polisi.

Selama persidangan terhadap Hooker, Colleen tidak bersikap kooperatif. Bahkan keadaan menjadi lebih buruk ketika pengacara si terdakwa menunjukkan sebuah surat cinta yang ditulis Coleen kepada Hooker.

Kenyataan-kenyataan yang ada sangat jelas. Coleen telah diculik, hidupnya terancam dan ia dikurung dalam sebuah kotak selama tujuh tahun.

Lalu mengapa ia tidak bersikap kooperatif dengan para penuntut umum? Surat cinta itu soal apa lagi? Para Juri tidak dapat menghukum Hooker karena Coleen nampaknya tidak menderita oleh karena apa yang telah dialaminya. Teka-teki yang rumit ini kemudian dipecahkan oleh seorang psikolog yang menjelaskan bahwa dalam masa yang sulit, seringkali orang yang ditawan kemudian merasa cinta dan tumbuh kesetiaan kepada orang yang telah menangkapnya. Ini disebut sebagai Sindrom Stockholm.

Coleen Stan disekap selama beberapa tahun dalam kotak ini, yang disembunyikan di bawah tempat tidur Hooker

Ini disebut mekanisme menyesuaikan diri. Hooker kemudian dihukum seumur hidup dan tidak mendapat kesempatan untuk bebas bersyarat.

Hanya dengan bantuan pemahaman baru ini, mengenai psikologi manusia, kita dapat mengerti ekspresi aneh cinta Safiyah terhadap orang yang telah membunuh sanak keluarganya yang dikasihinya.


Zawadi melanjutkan,

Inilah Umm al-Mu’minin, Safiyyah, mengenang saat-saat ia membenci Nabi karena telah membunuh ayahnya dan mantan suaminya. Nabi meminta maaf kepadanya dan berkata, “Ayahmu memerintahkan orang-orang Arab untuk memerangiku dan telah melakukan tindakan yang keji”, ia memohon maaf sedemikian rupa sehingga Safiyyah membuang kepahitannya terhadap Nabi. (Al-Bayhaqi, Dala’il an-Nubuwwah, vol. 4, h. 230, Terdapat dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.166)

Apakah ini masuk akal? Muhammad membantai ayahnya dan suaminya, lalu kemudian membenarkan tindakan-tindakannya itu, dan seperti yang dikatakan Zawadi, ia meminta maaf (padahal sebenarnya tidak) lalu wanita itu memaafkannya? Saya tidak tahu persis apa yang sedang ditutup-tutup Zawadi, (walau sebenarnya saya tahu. Otaknya dipenuhi dengan Islam), tapi argumennya tidak masuk akal. Anda membunuh ayah dan suami seseorang serta seluruh anggota keluarganya, kemudian anda menjelaskan mengapa anda harus melakukannya, lalu kemudian orang itu memaafkan anda? Cara berpikir seperti inilah yang membuat orang Muslim percaya pada absurditas apapun. Jika orang Muslim menggunakan sedikit saja akal sehat, mereka akan meninggalkan Islam.

Ya, memang benar pertama-tama Safiyyah sangat marah pada Nabi namun kemudian ia mengampuninya. Ini terjadi terutama berkaitan dengan kenyataan bahwa ia selalu memandang Muhammad sebagai seorang Nabi.

Saffiyah berkata, “Aku adalah anak kesayangan ayah dan pamanku. Ketika Utusan Allah datang ke Medinah dan tinggal di Quba, orang-tuaku pergi menemuinya pada malam hari dan ketika mereka terlihat sangat gelisah dan letih aku menyambut mereka dengan riang. Namun aku terkejut karena tidak seorangpun dari mereka melihatku. Mereka sangat berduka sampai-sampai mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku mendengar pamanku, Abu Yasir, berkata kepada ayahku, ‘Benarkah dia orangnya?’ Ia berkata, ‘Demi Allah, iya’. Pamanku berkata: ‘Dapatkah engkau mengenalinya dan mengkonfirmasi hal ini?’ Ia berkata, ‘Ya’. Pamanku berkata, ‘apa yang kau rasakan mengenai dia?’ Ia berkata, ‘Demi Allah, aku akan menjadi musuhnya seumur hidupku’” (Ibn Hisham, As-Sirah an-Nabawiyyah, vol. 2, h. 257-258, Terdapat dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.162).

Cerita di atas menggambarkan kewaspadaan dan kecerdasan Safiyyah. Cerita itu juga menunjukkan bahwa orang Yahudi telah mengetahui kenabian Nabi, dan mengenalnya sebaik mereka mengenal anak-anak mereka. Namun demikian, mereka mempunyai rasa benci dan kepahitan kepada Islam dan kepada Nabi. Tambahan lagi, cerita itu menunjukkan adanya permusuhan dan kebencian besar yang dirasakan Bani Huyayy terhadap Utusan Allah. Safiyyah tidak mewarisi apapun dari ayahnya karena Allah telah mempersiapkan hatinya untuk Islam dan menyiapkan jiwanya untuk iman. (Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.162-163).

Hadith ini memperlihatkan pikiran sakit orang-orang Muslim, seperti yang telah berulangkali saya katakan dan tunjukkan dalam buku saya, mereka mewarisi ketidakwarasan nabi mereka.

Orang-orang yang narsistik mengalami delusi bahwa semua orang mengetahui kehebatan mereka dan jika ada orang yang menentang mereka, itu karena iri hati. Hadith di atas adalah satu contoh pikiran narsistik orang Muslim.

Bagaimana kita dapat diyakinkan bahwa seseorang adalah utusan Tuhan memutuskan untuk menolaknya dengan keras? Apakah ini benar-benar masuk akal? Tidak. Tidak bagi orang yang normal. Tapi dapat masuk akal bagi orang yang narsistik. Narsisme adalah sebuah gangguan mental. Fungsi otak mengalami gangguan. Orang yang narsistik mengalami gangguan untuk memahami realita.

Orang meyakini bahwa mereka benar dan siapa yang tidak sepakat dengan mereka adalah sesat. Bukan sebaliknya. Bagaimana bisa ada orang yang punya argumen sebodoh itu?

Lebih jauh lagi, bagaimana orang Yahudi di Medinah dapat mengetahui bahwa Muhammad adalah Mesias yang mereka harapkan kedatangan-Nya? Bukti apa yang dapat mereka lihat? Mengapa bukti itu sekarang tidak ada lagi?

Orang Muslim mengklaim bahwa Muhammad disebutkan dalam Kidung Agung 5:15 dalam Alkitab. Silahkan membaca tanggapan saya dalam: read my response untuk melihat ketidakwarasan pikiran mereka. Muhammad tidak pernah disebutkan sama sekali dalam Alkitab. Tidak ada bukti apapun mengenai dia dalam kitab suci apapun yang datang sebelum dia. Jadi bagaimana ayah dan paman Safiyyah dapat mengetahui bahwa Muhammad adalah “dia”? Kecuali mereka menganggapnya sebagai Iblis. Ada banyak indikasi dalam Alkitab yang menunjukkan Muhammad adalah Iblis, namun tidak satupun yang dapat membuat kita percaya bahwa ia disebutkan dalam kitab itu sebagai orang yang dijanjikan bagi orang Yahudi.

Siapapun yang percaya pada kebohongan ini pasti kurang kecerdasannya. Orang Muslim sangat membenci Baha’u’llah. Akankah mereka menolak untuk percaya setelah mereka yakin bahwa Baha’u’llah adalah seorang utusan Tuhan? Tentu saja tidak! Argumen seperti ini bertentangan dengan akal. Hanya orang Muslim yang dapat mempercayai absurditas bohong ini. Tunjukkanlah pada saya satu orang Muslim yang menerima Baha’u’’llah sebagai seorang nabi yang sejati dan tidak percaya kepadanya? Ini mustahil. Inilah argumen terbodoh yang dapat dibuat orang.

Tragedinya bukanlah bahwa Islam adalah sebuah kebohongan, namun kenyataan bahwa Islam telah merusak otak para pengikutnya hingga pada tingkat dimana mereka tidak dapat lagi berpikir secara rasional. Mereka melihat segala sesuatunya buram. Bagi mereka realita sudah terganggu. Jika anda adalah seorang Muslim anda tinggal dalam dunia cermin yang berlekak-lekuk. Anda melihat dunia ini rusak dan berubah bentuk karena ditekuk disana-sini. Jika anda keluar dari Islam, anda akan mulai melihat segala sesuatunya dalam dimensi yang sebenarnya. Bukan hanya opini anda yang berubah, keseluruhan “weltanschauung” anda, orientasi kognitif fundamental anda berubah.

Orang Muslim percaya bahawa semua orang telah yakin bahwa Islam itu benar dan alasan mengapa mereka bukan orang Muslim adalah karena mereka iri hati, atau hatinya berpenyakitan. Mereka tidak merasa perlu untuk membuktikan klaim Islam. Bagi mereka, itu tidak dibutuhkan, karena sudah sejelas matahari. Jika anda tidak melihatnya, itu karena anda tidak ingin melihatnya. Sebagai akibatnya, siapapun yang tidak sepakat dengan Islam akan direndahkan martabatnya sebagai manusia dan dipandang sebagai sekutu setan. Oleh karena itu, merampas hak azasi manusia adalah tindakan yang mereka benarkan.

Zawadi mengutip situs Islam lainnya. Lihat di quotes another Islamic site

nabi yang datang berikutnya dan yang terakhir secara akurat ditulis dalam Taurat, yang juga memuat tanda-tanda yang mudah dikenali orang Yahudi”, tetapi orang Yahudi menolaknya karena ia adalah seorang Arab sedangkan mereka mengharapkan seorang Yahudi.

Nah, tunjukkanlah pada kami dimana? Di bagian mana dalam Taurat, Muhammad diceritakan dengan sangat akurat sehingga orang dapat mengenalinya dengan mudah?

Islam dibangun di atas fondasi kebohongan. Klaim ini, seperti halnya semua klaim orang Muslim lainnya, adalah sebuah kebohongan. Ketika Muhammad berkata bahwa ia disebutkan dalam Alkitab, para pengikutnya yang masa bodoh tidak mempunyai Alkitab untuk mereka baca dan verifikasi. Mereka mempercayai begitu saja apa yang dikatakan pada mereka. Pada masa kini semua orang mempunyai akses kepada Alkitab. Bahkan Alkitab sudah online. Tunjukkanlah pada kami dimana Muhammad disebutkan? Dasar tidak punya malu! Jika anda berpikir kehormatanmu dapat dipulihkan dengan cara anda membunuh putrimu sendiri, maka pasti anda tidak merasa malu kalau berbohong.

Karakter Safiyyah

Ini menunjukkan betapa Safiyyah adalah seorang yang sangat bertaqwa kepada Allah.

Abd Allah ibn Ubaydah berkata, “Sekelompok orang berkumpul di kamar Safiyyah, salah seorang istri Nabi. Mereka mengingat Allah, membaca Qur’an dan bersujud. Safiyyah memanggil mereka dan berkata, ‘Kamu bersujud dan membaca Qur’an tapi mengapa kamu tidak meratap (karena takut akan Allah)?(Abu Nu’aym al Asbahani, Hilyat al-Awliya‘, vol. 2, h. 55, Dikutip dalam Muhammad Fathi Mus’ad,The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.177).

Tidak, ini tidak menunjukkan ketulusannya. Oleh karena episode ini terjadi setelah kematian Muhammad dan ia sudah tidak remaja lagi, besar kemungkinan ia telah pulih dari sindrom Stockholm yang dideritanya dan kemudian menjadi sarkastis. Obama mencium tangan Raja Saudi. Saya sarankan – lain kali Obama harus sujud dan mencium sepatu Raja. Apakah tindakan itu menunjukkan bahwa saya adalah orang yang setia mengabdi pada Raja Saudi? Akal sehat dan berpikir rasional sangat dibutuhkan orang Muslim.

Diambil dari: http://www.geocities.com/mutmainaa1/people/safiyah.html

Ia masih mengalami kesulitan-kesulitan setelah kematian Nabi. Suatu ketika budak perempuannya menemui Amir Al Muminin Umar dan bertanya, “Amir al Muminin! Safiyyah mencintai hari Sabbath dan tetap menjalin hubungan dengan orang-orang Yahudi!” Umar menanyai Safiyyah mengenai hal itu dan ia berkata, “Aku tidak mengasihi hari Sabbath lagi setelah Allah menggantikannya dengan hari Jumat untukku, dan aku hanya menjalin hubungan dengan dengan orang-orang Yahudi yang mempunyai hubungan kekerabatan denganku. Ia menanyai budak perempuannya apa yang telah merasuknya sehingga ia berbohong kepada Umar dan gadis itu menjawab, “Setan!” Safiyyah berkata, “Pergilah, kamu sudah bebas”. Ini menunjukkan dan membuktikan bahwa Safiyyah tetap menjadi seorang Muslim yang setia bahkan setelah kematian Nabi.

Hadith ini memberi banyak informasi. Budak Safiyyah melihatnya melaksanakan Sabbath dan berhubungan dengan budak-budak Yahudi di Medinah. Gadis malang ini sendiri adalah seorang budak. Tuhan tahu trauma apa yang telah dialaminya. Mungkin ia ditangkap dari Iran atau Mesir. Kini ia mendapati dirinya dikelilingi oleh orang-orang jahat yang beranggapan ia najis. Ia melaporkan apa yang dilihatnya kepada Umar, boleh jadi dengan harapan ia akan mendapatkan sedikit kebaikan. Apa yang dapat dikatakan Safiyyah ketika ia diinterogasi? Dapatkah ia berdebat dengan Komandan Orang-orang Beriman, seorang pria yang dikenal gampang marah dan kejam dan mengatakan pada pria itu bahwa ia tidak percaya pada dusta-dusta Muhammad? Safiyyah harus menyembunyikan imannya demi keselamatan dirinya. Budak perempuan itu, yang kini menyadari bahwa perkataannya bertentangan dengan perkataan seorang Ummul Mo’menin, kuatir dan takut akan hidupnya dan menyalahkan Setan yang telah membuatnya melakukan hal ini. Setiap kisah adalah sebuah tragedi di dalam tragedi lainnya. semua orang adalah korban dan orang yang mengorbankan orang lain. Setan pasti bangga akan keberhasilannya ini.

Ketika kita membaca sebuah hadith kita juga akan ditolong untuk berpikir secara rasional. Kebenaran itu ada disana, tidak dalam kata-kata yang tertulis, namun dalam implikasi dari perkataan-perkataan itu. Untuk memahami hadith, bacalah apa yang tidak tertulis disana, bacalah yang tersirat.

Saya membaca Quran dan hadith, kitab-kitab yang sama yang dibaca orang Muslim. Namun, saya melihat apa yang tidak mereka lihat selama 1400 tahun. Itu karena saya tidak menelan semuanya mentah-mentah. Saya merenungkan dan menganalisanya juga. Semua orang dapat melakukannya. Penting sekali ketika kita membaca sebuah buku, apakah buku religius atau tidak, kita membacanya secara kritis.

Safiyyah menjalin hubungan yang hangat dan simpatik dengan semua anggota keluarga Nabi. Ia menghadiahkan Fatima az-Zahra perhiasan untuk menunjukkan kasihnya kepada Fatima, dan ia juga memberikan hadiah-hadiah kepada beberapa orang istri Nabi, yaitu perhiasan-perhiasannya yang dibawanya dari Khaybar. (Ibn Sa’d, Tabaqat, vol.8, h.100, Terdapat dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.172).

Dengan kata lain, ia berusaha untuk mendapatkan kasih mereka sehingga menurunkan tingkat kekejaman mereka kepadanya. Menyenangkan orang lain adalah strategi kaum yang lemah agar dapat tetap hidup.

Pernikahan Nabi dengan Safiyyah dan hikmahnya

Berkenaan dengan tuduhan bahwa Safiyyah dipaksa menikah atau dimanfaatkan, seperti yang dituduhkan oleh seorang Islamofobis yang terkenal, [yaitu saya, tapi tokoh Islamis ini tidak mau menyebut nama saya], klaim ini sama sekali tidak berdasar. Kita semua tahu bahwa Safiyyah tetap setia kepada Nabi hingga ia wafat.

Benarkah demikian?! Jadi ia menolak menemui semua pria yang mengiriminya mawar dan meneleponnya lewat telepon selularnya? Apakah ia mempunyai pilihan? Jika anda memenjarakan istri anda, anda tidak dapat mengatakan bahwa ia setia pada anda. Safiyyah sama sekali tidak mempunyai kebebasan di Medinah dan tidak bisa pergi kemanapun.

(kisah mengenai kesetiaan Safiyyah diafirmasi oleh Nabi sendiri dan dicatat dalam Muhammad Husayn Haykal, op. cit., h. 374, yang juga memuat dokumen online, Terdapat dalam: http://www.bismikaallahuma.org/index.php/articles/umm-ul-mukminin-safiyyah-the-jewish-wife-of-muhammadp)

Pada kenyataannya, kita mendapati Nabi memberikan penawaran berikut ini kepadanya, seperti yang ditulis oleh Martin Lings:

Ia [Nabi Muhammad - Red.] kemudian berkata kepada Safiyyah bahwa ia akan membebaskannya, dan ia memberikan pilihan untuk tetap menjadi orang Yahudi dan kembali kepada kaumnya atau masuk Islam dan menjadi istrinya. “Saya memilih Allah dan Utusan-Nya”, katanya; dan mereka menikah tepat sebelum berangkat pulang. (Martin Lings, Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources (George Allen & Unwin, 1983), h. 269, Terdapat dalam http://www.bismikaallahuma.org/index.php/articles/umm-ul-mukminin-safiyyah-the-jewish-wife-of-muhammadp)

Membebaskannya? Suaminya dibantai. Ayah dan pamannya dibunuh. Saudara-saudaranya digorok. Kerabat-kerabat perempuannya menjadi budak di beberapa rumah orang Muslim. Kemana ia dapat pergi? Jika ia tidak menikahi Muhammad, ia akan menjadi budak seks seorang Muslim lainnya.

Pernikahan dengan Safiyyah juga mempunyai signifikansi politis, karena itu akan menurunkan kekerasan dan membangun sekutu. John L. Esposito menuliskan:

Sudah menjadi kebiasaan para pemimpin Arab melakukan pernikahan politik untuk memperkuat persekutuan. Yang lainnya menikahi para janda sahabatnya yang gugur di medan perang dan yang membutuhkan perlindungan. (John L. Esposito, Islam: The Straight Path, pp. 19-20, Terdapat dalam http://www.bismikaallahuma.org/index.php/articles/umm-ul-mukminin-safiyyah-the-jewish-wife-of-muhammadp)

John Esposito telah menjual jiwanya demi uang. Dengan siapa Muhammad hendak memperkuat ikatan politiknya dengan menikahi Safiyyah? Sukunya dimusnahkan dan ayahnya dipenggal. Dua ons pikiran rasional akan menghapus semua klaim ini.

Tindakan signifikan menikahi Safiyyah ini sesungguhnya adalah penghormatan besar untuknya, karena ini bukan hanya untuk memelihara kehormatannya, tapi juga mencegahnya agar tidak dijadikan budak.

Ahirnya Zawadi mengatakan sesuatu yang dapat saya setujui. Itulah sesungguhnya apa yang saya katakan di atas. Lihatlah bagaimana si apologis ini berkontradiksi dengan dirinya sendiri? Sebelumnya ia menulis bahwa Muhammad menawarkan kebebasan kepada Safiyyah. Kini ia mengakui bahwa pilihan lain untuk Safiyyah hanyalah menjadi budak seks pria Muslim lain.

Haykal mencatat:

Nabi memberinya kebebasan dan kemudian menikahinya, mengikuti teladan para penakluk lainnya yang menikahi putri-putri dan istri-istri para raja yang telah mereka taklukkan, , partly in order to alleviate their tragedy and partly to preserve their dignity. (Muhammad Husayn Haykal, The Life of Muhammad (North American Trust Publications, 1976), p. 373, Cited in:

http://www.bismikaallahuma.org/index.php/articles/umm-ul-mukminin-safiyyah-the-jewish-wife-of-muhammadp)

Saya benar-benar tidak dapat memahami pikiran Islam. Bayangkan ada orang yang menjarah rumah anda dan setelah membunuh anda dan anak-anak laki-laki anda, ia menjadikan putri-putri dan istri anda sebagai budak, kemudian berhubungan seks dengan putri anda dan menyebutnya sebagai istrinya. Apakah itu dapat mengurangi tingkat kepedihan dari tragedi tersebut atau memelihara kehormatan anda?

Pemikiran yang menyimpang ini berkaitan dengan fakta bahwa bagi orang Muslim tindakan melegalkan pernikahan berarti memberikan kehormatan kepada si wanita dan keluarganya. Wanita adalah aurat, obyek yang memalukan. Hanya jika ia menikah, maka “kemaluannya” ditutupi. Sekali ia menikah, ia dapat diperkosa. Berdasarkan hukum Islam itu bukanlah perkosaan.

Dengan menikahi Safiyyah, Nabi bermaksud untuk mengakhiri permusuhan dan kekerasan yang ditunjukkan orang Yahudi kepadanya dan kepada Islam, selama ini, namun sayangnya mereka tetap membenci Islam dan nabi semata-mata hanya karena kelicikan dan keras kepala memang sudah menjadi sifat bawaan mereka. (Lihat Muhammad M. as-Sawwaf, Zawjat ar-Rasul at-Tahirat wa Hikmat T’adudihinn, h. 76-79, Terdapat dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.168.).

Pemikiran seperti ini memuakkan. Orang Muslim benar-benar berharap orang Yahudi mengasihi Muhammad karena ia telah memperkosa seorang perempuan Yahudi dan menyebut perempuan itu sebagai istrinya. Jadi mereka harus melupakan kenyataan bahwa ia telah membantai seluruh anggota keluarga dan sukunya. Bagaimana bisa ada orang yang sangat terputus dari realita? Orang Muslim tidak melihat bahwa membunuh kita adalah hal yang salah, malah mengharapkan kita berterimakasih kepada mereka karena telah memperkosa anak-anak perempuan kita setelah mereka membaca ayat mengenai pernikahan. Bagaimana kita dapat hidup berdampingan dengan orang-orang seperti itu? Mereka berasal dari dunia lain. Kita tidak mempunyai nilai/norma yang sama dengan mereka.

Sikap Nabi terhadap Safiyyah

Sesungguhnya, ketika Bilal ibn Rabah, seorang Sahabat Nabi, membawa Safiyyah bersama perempuan-perempuan Yahudi lainnya ke hadapannya dengan melewati orang-orang Yahudi yang telah dibantai dalam peperangan, Muhammad secara pribadi menegur Bilal dan berkata, “Apakah engkau tidak mempunyai belas kasihan, Bilal, saat engkau membawa dua wanita ini melewati mayat suami-suami mereka?” (A. Guillaume (terj.), The Life of Muhammad: A translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah (Oxford University Press, 1978), p. 515, Terdapat dalam http://www.bismikaallahuma.org/index.php/articles/umm-ul-mukminin-safiyyah-the-jewish-wife-of-muhammadp)

Marilah kita membaca kutipan selengkapnya dari Sirat Ibn Ishaq.

“Setelah Utusan Allah menaklukkan al-Qamus, benteng Ibn Abi al-Huqyaq, Safiyyah bt. Huyayy b. Akhtab dibawa kepadanya, dan seorang perempuan lain bersamanya. Bilal, yang membawa mereka, membawa mereka melewati beberapa orang Yahudi yang telah dibantai. Ketika wanita yang bersama Safiyyah melihat mereka, ia berteriak, memukuli wajahnya, dan menaruh abu di kepalanya. Ketika Utusan Allah melihatnya, ia berkata, ‘Singkirkan iblis perempuan ini dari hadapanku!’ Perempuan itu menyembunyikan Safiyyah di belakangnya agar Utusan Allah memilihnya”.

Bilal membawa Safiyah dan saudari iparnya kepada Muhammad agar ia dapat memilih salah satu dari antara mereka untuk melayaninya malam itu sedangkan “Kemurahan Allah” SAW baru saja selesai menyiksa Kinana sampai mati. Ketika melihat jenazah abangnya, adik perempuan Kinana itu menjadi histeris. Sang Kemurahan Allah menampar wajahnya dan berkata, “Singkirkan iblis perempuan ini dari hadapanku!” Kesalahan iblis perempuan itu hanyalah menjerit saat melihat jasad abangnya. Kemudian Sang Insan Kamil (manusia sempurna) ini menegur Bilal dan berkata, ““Apakah engkau tidak mempunyai belas kasihan, Bilal, saat engkau membawa dua wanita ini melewati mayat suami dan saudara mereka?”

Itulah yang dimaksud orang Muslim ketika mereka berbicara mengenai belas kasihan nabi mereka.

Suatu ketika saat Zaynab bint Jahsh dan Safiyyah pergi bersama Nabi dalam salah satu perjalanannya, unta Safiyyah jatuh sakit. Nabi berkata kepada Zaynab, “Unta Safiyyah jatuh sakit, bagaimana kalau engkau memberikannya salah satu untamu”. Ia berkata, “Aku tidak akan pernah memberikannya kepada perempuan Yahudi seperti itu”. Nabi menjadi marah padanya dan tidak menghampirinya selama dua bulan. (Ahmad, vol. 6, h. 336-337, Terdapat dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.173).

Apa yang dapat dipelajari dari hadith ini? Bagi orang Muslim, yang dapat dipelajari adalah apa yang tertulis. Bagi orang yang rasional, hadith ini menunjukkan betapa Safiyyah merasa diasingkan di antara istri-istri Arab Muhammad. Ia melakukan semuanya untuk mendapatkan kasih musuh-musuhnya. Ia memberikan mereka hadiah-hadiah. Ia berpura-pura mencintai Muhammad sedangkan jelas terlihat oleh semua orang, kecuali si Muhammad yang narsistik, bahwa ia tidak tulus. Wanita muda ini mempunyai insting yang kuat untuk mempertahankan hidupnya.

Ya, Muhammad mungkin telah tertipu karena mengira Safiyyah mencintainya. Walaupun ia sangat licik, orang yang narsistik ini adalah seorang pria yang sangat bodoh. Siapakah yang mau meminta seorang wanita Khaybar untuk memasak baginya, setelah ia membunuh orang-orang yang dikasihi wanita itu, kecuali ia memang benar-benar bodoh? Wanita itu berusaha meracuninya, dan malangnya hal itu terbongkar.

Orang-orang yang narsistik hidup dalam dunia fantasi. Muhammad menyangka ia orang yang istimewa dan secara alamiah harus dicintai semua orang, kecuali orang yang di hatinya ada setan. Orang Muslim menderita gangguan mental yang sama. Bagaimanapun, realita sangat jauh berbeda. Safiyyah hanya berusaha mempertahankan hidupnya. Sekalipun ia menderita sindrom Stockholm, ia tidak sebodoh itu untuk jatuh cinta pada seorang pria tua yang impoten yang telah menghancurkan hidupnya dan membantai orang-orang yang dikasihinya. Sindrom Stockholm bukanlah cinta.

Nabi selalu memperlakukan Safiyyah dengan sopan, kelembutan dan kasih sayang. Safiyyah berkata, “Utusan Allah menunaikan ibadah Haji dengan istri-istrinya. Di perjalanan untaku jatuh berlutut karena untaku adalah yang terlemah dari semua unta, lalu aku menangis. Nabi datang padaku dan menghapus airmataku dengan baju dan tangannya. Semakin ia memintaku untuk tidak menangis, semakin keras aku menangis. (Ahmad, vol.6, h. 337, Terdapat dalam Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of the Prophet Muhammad: Their Strives and Their Lives, h.176).

Kisah ini memilukan hati. Jika anda punya hati, anda akan menangis juga. Tempatkanlah diri anda pada posisi gadis muda ini. Bayangkan anda ditawan dan hidup di antara orang-orang yang telah membunuh kekasih-kekasih anda. Anda tidak tahu harus pergi kemana dan tidak ada seorangpun yang dapat dijadikan tempat untuk bersandar. Anda dihina oleh orang-orang di sekitar anda. Satu-satunya orang yang menunjukkan kasih pada anda adalah orang yang telah membunuh ayah dan suami anda.

Ketika unta Safiyyah sakit, ia menangis. Hatinya tidak sanggup lagi menanggung derita sebanyak itu. Bodoh sekali jika berpikir ia menangis sesenggukan hanya karena untanya sakit. Ia menangisi hatinya yang kesepian. Saat itu ia baru berusia 17 atau 18 tahun, ia masih sangat muda. Saya meninggalkan negara saya ketika saya berusia 16 tahun. Orang-tua saya saat itu masih hiudp dan saya tinggal di antara teman-teman yang sangat mendukung. Namun saya merasa sangat kesepian. Malam-malam tertentu saya memandangi bulan dan berpikir mungkin ibu saya juga sedang memandangi bulan itu, lalu menangis diam-diam. Hanya Tuhan yang tahu derita yang dirasakan Safiyyah dalam hatinya. Boleh jadi wanita muda itu berdiri di depan jendelanya, di kegelapan kamarnya dan memandangi bintang-bintang malam demi malam, bertanya-tanya, yang manakah dari bintang-bintang itu adalah suaminya yang dicintainya, yang manakah ayahnya. Yang manakah saudara-saudaranya dan yang manakah pamannya. Saya tinggal dengan teman-teman yang sebaya dengan saya. Kami melakukan apa yang dilakukan orang muda dan bersenang-senang. Safiyyah hanya sendirian, benar-benar sendirian. Ketika Safiyah mengatakan pada Muhammad yang sedang menjelang ajal, bahwa ia berharap ia dapat menggantikan tempatnya, boleh jadi ia memang menginginkan hal itu. Pasti sudah berjuta kali ia ingin mati.

Membaca Tabari adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah saya lakukan. Ada terlalu banyak sakit dan penderitaan dalam buku itu. Tetapi anda harus membaca apa yang tersirat. Anda harus melihat diri anda sendiri sebagai salah satu dari sekian banyak korban. Ini adalah hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang Muslim. Bahkan mereka tertawa dan mengejek. Di bawah pengaruh Islam mereka sedemikian direndahkan hingga menjadi sesuatu yang sangat jahat – mereka tidak memiliki perikemanusiaan, empati dan kasih.

Sumber: http://indonesian.alisina.org/?p=110

No comments:

Post a Comment