Monday, May 31, 2010

ISLAM MEMPROMOSIKAN PELECEHAN HOMOSEKSUAL ANAK-ANAK

Oleh Denise Caster

Sebelum 9/11, tidak banyak diketahui tentang agama Islam. Kami semua mendengar tentang Muhammad. Kami semua mendengar tentang minyak, harem dan gurun pasir. Tapi tahukah anda CERITA SEBENARNYA tentang Islam? TAHUKAH ANDA BAHWA PEDOPHILIA SAH DALAM ISLAM DAN MEMANG DIPRAKTEKKAN MUSLIM? Tahukah anda bahwa alasan sebenarnya penyunatan wanita adalah karena merajalelanya lesbianisme?

Ketika Muhammad menciptakan agamanya, ia menerapkan praktek yang sudah ada dijaman dan kawasan itu : seks dengan anak-anak. Dengan kata lain, Muslim sejak 1400 tahun lalu mempraktekkan ‘pedophilia dengan kelamin sejenis’! Islam menuntut keperawanan wanita sebelum menikah, tapi seks dengan sesama kelamin tidak dilarang. Artinya, seks antara satu jenis kelamin malah didorong, selama dilakukan secara Islami.

Seperti juga budaya Yunani yang berlaku dalam masanya Muhammad itu, lelaki dewasa didorong agar membentuk hubungan dengan lelaki muda yang baru mencapai pubertas. Lelaki Muslim dewasa memang diajarkan untuk melakukan hubungan seksual dengan lelaki-lelaki muda itu. Selama lelaki dewasa ‘memberikan’ seks kepada lelaki lebih muda, ini diterima. Lelaki yang lebih muda itu, setelah mencapai kedewasaan, diharapkan akan melakukan yang saja kepada lelaki yang lebih muda darinya.

Dalam budaya Muslim, homoseksualitas dibeda-bedakan.

Jika lelaki dewasa mensodomi lelaki muda (8-14 tahun), ini tidak dianggap melakukan kejahatan seksual. Tapi kalau lelaki dewasa yang DI-SODOMI lelaki muda, ini yang bisa berakibat fatal! Hukumannya : penggal kepala!



Jadi jika seorang lelaki dewasa suka di-sodomi, ia akan dianggap ‘gay’, dan bukan ‘homoseksual’. Jika orang dianggap ‘gay’, aturan Islam menyatakan ia harus ‘dipenggal’. Jadi yang dewasa harus men-sodomi, dan bukan di-sodomi. Ini semua karena konsep kontrol, dan konsep rancu tentang kejantanan.

Banyak wanita menjadi anggota harem. Sheik-sheik kaya juga harus menerapkan “kontrol” atas wanita dikawasan itu. Wanita dibeli dari keluarga-keluarga mereka, guna mengontrol keturunan mereka. Orang yang memiliki uang atau kekuasaan, harus memilih dari wanita yang statusnya paling rendah dan paling tidak menarik. Ini semakin meningkatkan “rejim elitis” yang sangat disukai Muslim…

Para sheik memiliki lusinan isteri dan segudang gundik. Ini mengakibatkan para istri menganggur saat sang suami sedang menggilir wanita lain. Dan mereka tidak mungkin untuk berzinah. Hukumannya : mati, bahkan tuduhan perzinahanpun bisa kena hukuman mati. Tapi ingat bahwa perzinahan dalam Islam hanya mempedulikan seks heterosexual. Oleh karena itu wanita-wanita penghuni harem diketahui mempelajari teknik-teknik lesbianisme. Tapi ini kemudian mengakibatkan para lelaki menjadi senewen dan mewajibkan mereka agar melakukan penyunatan klitoris agar menghalangi kenikmatan hubungan lesbian mereka.

Selama 5.000 tahun, budaya Timur Tengah mempraktekkan ‘Homoseksualitas Terbatas’. Budaya ini MEMPROMOSIKAN HOMOSEKSUALITAS DENGAN ANAK-ANAK (paedophilia/pederasty), sebagai cara menjaga keperawanan wanita. Budaya ini melahirkan individu-individu dengan semangat seks tinggi yang demi memenuhi ‘doktrin seksual’ agama mereka harus melakukannya dengan lelaki muda.

ISLAM DAN SURGA

Anda sudah tahu bukan bahwa Surga Islam menjamin “houri” dan merupakan tempat poligami dimana lelaki berhak akan kenikmatan seksual dan wanita dibebani kewajiban untuk memuaskan keinginan lelaki. Jadi para penguasa dan aristokrat Muslim di India memperlakukan seksualitas sebagai bentuk pemenuhan agama tanpa batasan moral apapun.

Islam memaksimalkan ruang seksual bukan hanya di dunia tetapi di akhirat nanti, yang tiket masuknya hanya bisa dijamin lewat Nabi Muhammad. Filosofi ini menghancurkan jalan pikir Muslim dimanapun didunia : ini merupakan opium/candu yang menjaga pengikut agar terus berada dalam keadaan tidak masuk akal (in a state of insensibility); mereka lupa segala realitas kehidupan maupun segala kewajiban moral demi bayang-bayang kenikmatan seksual nanti.

Aturan kosmik Al-Quran memang sengaja tidak lengkap. Untuk melengkapinya, pengikut harus melakukan perang suci untuk menundukkan orang lain pada kemauan Tuhan. Adalah kewajiban setiap lelaki Muslim agar menginisiasi Non-Muslim kedalam Islam lewat metode penundukan. Konsep mereka tentang Kaum Naf (Non-Muslim) adalah sebagai lelaki pasif. Ini menandakan adanya elemen erotis dalam perang suci “menundukkan” orang ini. Dengan kata lain, inisiasi dan submisi kedalam Islam mencakup penaklukan Non-Muslim lewat agresi seksual : memerangi sodomi pasif dengan sodomi aktif.

Untuk mengerti pandangan jaman baheula tentang homoseksualitas, penting untuk mengakui bahwa orang-orang jaman dulu membedakan antara (1) penetrasi sexual para ‘bukan-lelaki’ (yaitu, lelaki yang impoten dengan wanita atau dikastrasi/dipotong kelaminnya), dan (2) penetrasi seksual ‘lelaki’ — kejantanannya dianggap sebagai kapasitas memainkan peran lelaki dalam melangsungkan keturunan.

Sebelum timbulnya filosofi rasional, dunia kuno menganggap kategori pertama sebagai suci, sementara penetrasi seksual oleh lelaki bebas dan dewasa dikutuk secara universal karena dianggap merusak sifat alami lelaki. Seks dengan bocah-bocah lelaki dan belum berbulu dianggap kontroversial karena status mereka yang belum lelaki penuh (pre-male). Kalaupun diijinkan, seperti di Yunani, tradisi ini dikontrol secara ketat. Penggunaan budak lelaki sebagai budak seks diijinkan karena budak tidak perlu dipertanggungjawabkan dan tidak memiliki hak atas tubuh mereka, yang notabene merupakan hak majikan.

Untuk menahan godaan wanita, Islam mengeksploitasi keinginan lelaki untuk mendominasi, yang menuntut kepuasan seksual atas dasar perintah. Pemikiran ini yang akhirnya menciptakan budaya harem.

Memang sejarah manusia penuh dengan predator yang dikenal sebagai penakluk yang melakukan pembunuhan dan penculikan wanita guna memuaskan nafsu mereka akan kekuasaan, perampokan dan prestise (power, plunder and prestige). Mereka tahu bahwa kelakuan biadab mereka ini didikte oleh ambisi pribadi. Namun JIHAD, perintah Allah untuk menghancurkan Non-Muslim, tidak hanya mensahkan/mensucikan kekejaman-kekejaman ini, tetapi juga menganggapnya sebagai tindakan kesalehan, kemurnian dan kepantasan.

THE NATURAL EUNUCH

Al-Quran mengutuk “pendekatan lelaki dengan nafsu”, sebagaimana kastrasi lelaki, sebagai dosa rakyat Lot (Al-Quran SURAT 7. AL A’RAAF 81, SURAT 26. ASY SYU’ARAA’ 165-166, SURAT 27. AN NAML 55, SURAT 29. AL’ANKABUUT 28-29).

SURAT 7. AL A’RAAF 81
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.

SURAT 26. ASY SYU’ARAA’ 165-166
Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,
dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.

SURAT 27. AN NAML 55
Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”.

SURAT 29. AL’ANKABUUT 28-29
Dan (ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu”.
Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.

Tetapi Al-Quran tidak melarang penggunaan partner seks yang pasif, yaitu lelaki yang tidak dianggap ‘lelaki’ karena tidak memiliki nafsu terhadap perempuan. Di jaman modern ini, lelaki macam ini sering dikenal sebagai “gay”, namun dijaman dulu disebut “natural eunuch.”

Walaupun Al-Quran tidak pernah menggunakan kata eunuch [khasiyy], Hadis menyebutkannya. Al-Quran mengakui bahwa ada lelaki yang “tidak memiliki ciri khas lelaki” (SURAT 24. AN NUUR 31: “pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)”) dan sebagai pembantu domestik diijinkan melihat wanita telanjang. Ini rujukan kepada natural eunuchs, atau lelaki gay.

AKTIVITAS HOMOSEKSUAL OLEH LELAKI HETEROSEKSUAL

Aktivitas homoseksual oleh gay/eunuch tidak dibahas dalam Al-Quran, yang hanya menyebut pemerkosaan homoseksual yang tidak sah oleh lelaki heteroseksual terhadap lelaki heteroseksual lainnya. Disamping cerita Lot itu, eksploitasi seksual lelaki hetero juga dihindari karena para pemilik budak jaman Nabi Yusuf “abstain darinya” (SURAT 12. YUSUF 20 : “dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.”).

Namun Al-Quran dan Hadis menunjuk tanda-tanda yang mengijinkan nafsu homoseksual oleh lelaki hetero. Bahkan ada Hadis Sahih Bukhari, yang memberikan pendapat Abu Jafar, yang mengatakan bahwa seorang pedopilia dilarang mengawini ibu pacarnya (bocah lelakinya) jika terjadi penetrasi :

Sahih Bukhari, LXII, 25
Bagi siapapun yang bermain dengan bocah lelaki; jika ia mengakibatkannya memasukinya, maka ia tidak boleh menikahi ibunya.

(Aturan ini dibarengi dengan larangan terhadap lelaki yang ingin menikahi baik seorang ibu maupun puterinya.) Nampaknya menurut Hadis ini, penetrasi seksual bocah lelaki tidak dianggap sodomi. Karena kalau dianggap sodomi, maka jelas si pelaku sodomi itu tidak hanya perlu memusingkan apakah ia akan menikahi ibu pacaranya itu.

Perbedaan antara pederasty (seks dengan anak-anak) dan sodomi (penetrasi ‘lelaki’) dianggap normal dalam dunia kuno, dan memang masih berlangsung selama sejarah Islam sampai paling tidak abad ke 19.

Al-Quran sendiri memberi dukungan kepada para pederas/pedopilia dalam menggambarkan Surgawi.

SURAT 52. ATH THUUR 17-29
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan,
mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka.
(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”,
mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.
Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa.
Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.
Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya.
Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”.
Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.
Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.
Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila.

SURAT 56. AL WAAQI’AH 22-23
Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli,
laksana mutiara yang tersimpan baik.

SURAT 76. AL INSAAN 19
Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.

SURAT 2. AL BAQARAH 25
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Bahasa Inggrisnya bukan ‘istri-istri’ tapi partner/pasangan [azwaajun mutahharatun] “And they shall have immaculate partners in [the gardens]…”

SURAT 4. AN NISAA’ 57
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.

Bahasa Inggrisnya : And they shall have immaculate partners [azwaajun mutahharatun]…

Salah seorang ahli Sufi, Rabi’a Al-’Adawiyya memberikan pengesahan Ilahi bagi hubungan pederastik, yang diulangi-ulang tanpa sedikitpun penentangan dalam buku abad ke 10 tentang wanita-wanita ternama Sufi :

Satu hari seorang wanita, Rabi’a melihat pria, Rabah [Al-Qaysi] menciumi seorang lelaki muda ["huwa yuqabbil sabiyyan"]. ‘Kau mencintainya?’ tanya Rabi’a. ‘Ya,’ kata Rabah. Rabi’a menjawab, ‘Saya tidak dapat membayangkan masih ada ruang dalam hatimu untuk mencintai orang selain Allahu Akbar!’ Rabah teperanjat dan ia pingsan. Ketika ia bangun ia mengatakan, ‘Justru sebaliknya, inilah kemurahan Tuhan yang ditanamkanNya dalam hati budak-budakNya.’
(Dikutip dari as-Sulami, Early Sufi Women = Dhikr an-niswa al-muta ‘abbidat as sufiyyat, translated by Rkia E. Cornell, Louisville, KY: Fons Vitae, 1999, pp. 78-79.)

Disamping bocah lelaki, lelaki Muslim hetero sekali-sekali juga interes kepada lelaki dewasa, selama mereka bukan “lelaki.” Ada Hadis dimana sahabat Nabi ditanya apakah mereka diijinkan menggunakan lelaki (tahanan perang) sebagai “eunuch” untuk memenuhi kepuasan seksual mereka, karena mereka jauh dari isteri-isteri mereka.

Sahih Bukhari, LXII 6:9
[Dinarasi Ibn Mas'ud :] “Kami biasanya berperang dengan Nabi SAW. Tidak ada perempuan dengan kami. Kami katakan : O Rasul, bolehkah kami menggunakan beberapa sebagai eunuch [a laa nastakhsii]? Ia melarang kami.”

Versi Sahih Bukhari, LXII 8:13
Mengatakan bahwa ketimbang menggunakan lelaki hetero sebagai eunuch, Nabi mengijinkan mereka untuk ‘menikahi wanita-wanita laknat.’ [rakhasa lana an nankih al-maraa bil-shaub]. Ini yang dibacakannya dari Al-Quran : “Ya kaum beriman! Jangan membuat tidak sah hal-hal yang telah dibuat Allah sah bagimu…”

Yang dipermasalahkan bukannya bahwa Muhammad melarang menggunakan lelaki sehat sebagai eunuch. Tetapi bahwa tradisi menggunakan seorang eunuch sebagai obyek seksual itu adalah hal yang normal dalam masyarakat Arab yang juga disetujui Nabi. Eunuch memang tidak dianggap lelaki, karena itu tidak ada larangan terhadapnya, bahkan Al-Quran tidak melarangnya.

Dalam dinasti Mamluk, menurut David Ayalon dalam bukunya Eunuchs, Caliphs, and Sultans : A Study in Power Relationships (Jerusalem, 1999), mereka tidak hanya berfungsi untuk menghindari orang-orang Mamluk mengadakan seks dengan para eunuch-eunuch muda yang sedang dalam masa latihan.

Para eunuch nampak sebagai pelindung terhadap nafsu homoseksual. Mereka sebaliknya menjadi target nafsu tersebut, sehingga menolehkannya dari mereka-mereka yang lebih muda. Mereka digambarkan sebagai lunak di tempat tidur pada malam hari dan jantan saat pagi hari (hum nisaa’ li-mutmainn muqeem wa rijaal in kaanat al-asfaar; li-annahum bin-nahaar fawaaris wa bil-lail ‘araa’is).
[Arabic quoted by Ayalon from Abu Mansur al-Tha'alibi, Al-Latâ'if wal-Zarâ'if, Cairo 1324/1906-7, p. 79, lines 1-7; and the same quote from Tha'alibi in his Tamthîl wal-Muhâdara, Cairo 1381/1961, p. 224.]

Nah, apakah Muhammad sendiri menyatakan bahwa memang ada orang yang tidak suka hubungan heteroseksual, seperti para eunuch? Bacalah Hadis berikut :

Salah seorang sahabat Nabi, Abu Huraira, menghadap Nabi dan mengatakan ada ‘lelaki muda’ yang ‘takut akan siksaan jiwanya’ tetapi bahwa ia ‘tidak tahu bagaimana menikahi seorang wanita.’ [innee rajulun shaabbun wa ana akhaafu 'alaa nafsee al-'anata wa laa ajidu ma atazawwaju bihi an-nisaa'a]. Nabi terdiam dan setelah ditanya untuk keempat kalinya ia menjawab : “Ya Abu Huraira, pena sudah kering menulis tentang apa yang pantas bagimu. Jadi, jadikanlah eunuch bagi alasan itu, atau biarkanlah.” [ya Abaa Hurairata, jaffa al-qalam bimaa anta laaq fa'akhtasi 'alaa dhalika au dhar] (Sahih Bukhari, LXII 8).

(Sebagai perbandingan, bandingkan ketika Uthman datang kepada Muhammad dan meminta jika ia diijinkan menjalankan hidup tanpa seks, ia ditolak.)

Pertama-tama kita harus tanya apa ‘siksaan jiwa’ yang dimaksudkan Abu Huraira?

Muhammad Muhsin Khan, penerjemah Bukhari kedalam bahasa Inggris, menginterpretasinya sebagai : ketakutan melakukan hubungan seksual tidak sah.

Apa yang dimaksudkan dengan hgubungan seskual tidak sah? 2 hal tidak sah bagi seorang lelaki hetero :

1) Keinginan untuk pasif secara seksual dengan lelaki lain (dikenal sebagai ubnah) atau
2) Keinginan untuk berzinah dengan perempuan. Tapi jika AbuHuraira mengatakan bahwa ‘ia tidak tahu bagaimana menikahi wanita’, maka ini bukan hal yang dikhawatirkannya. Dan iapun tidak dapat disebut sebagai ‘lelaki hetero’, tetapi sebagai eunuch. Muhammad mengatkaann kepadanya bahwa identitasnya itu sudah ditentukan oleh Penciptanya (‘pena sudah kering’) dan ia harus menentukannya sendiri.

ALEXANDER DAN HELLENISME

Iskandar Zulkarnaen atau Alexander the Great, walau orang Masedonia, membuktikan diri sebagai duta besar kebudayaan Yunani yang memiliki unsur-unsur homoseksualitas. Ia bukan saja jendral jenius, ia juga memiliki kelihaian politik dan administratif. Ia jatuh cinta pada tata krama Timur dan sering mengenakan busana Timur dan bahkan memiliki dua permaisuri Timur, tetapi heteroseksualitasnya hanyalah tameng bagi politiknya di Timur. Ia homoseksual. Lewat dirinya, budaya Yunani yang dikenal dengan nama Hellenisme, tumbuh subur di negara-negara Timur Tengah.

Alexander menyatakan diri sebagai Dewa yang kemudian diterima dan ia dipuja diseluruh jajahannya di Timur. Tidak heran kalau kemudian, kepribadiannya sampai direkam oleh sajak-sajak erotis Persia, sampai tersebar ke semua negara Muslim yang menggunakan bahasa Persia.

Jazirah Arab juga tidak dilewatkan. Bagian selatan yang memuja Dewa-dewa wanita yang berhubungan dengan tradisi Hellenisme Yunani, juga mencapai bagian utara, atau Hijaz, tanah asal ‘Nabi’ Muhammad. Bahkan ayat Al-Quran memuji Iskandar Zulkarnaen sebagai orang bijaksana yang Allah suka ajak bicara dan mengijinkan untuk mengambil keputusan vital :

SURAT 18. AL KAHFI 83
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya”.

SURAT 18. AL KAHFI 86
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka”.

Jelas bahwa Al-Quran tidak mengutuk Iskandar Zulkarnaen. Malah homo yang satu ini oleh Allah ditunjukkan sebagai orang bijak, yang keputusannya dipercayai dan dihormati Allah! Jelas, Allah tidak risih dengan kehomo-annya. Ini didukung oleh :

SURAT 52. ATH THUUR 23-24
Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa.
Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.

Versi Indonesianya tidak menunjukkan jenis kelamin para penghuni Surga itu, tapi versi Inggrisnya menyatakan :

While they ([b]boys) hand therein (paradise) a cup One to another wherein is no idle talk, no cause of sin, and there go around youths, own, as if they were concealed pearls.”

Ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa :

1. Semua lelaki Muslim memiliki bocah-bocah lelaki mereka “masing-masing,” yang secantik mutiara, dan
2. Hukum di Surga begitu liberal sampai Ketidaksenonohan tidak dihitung sebagai dosa.

Hal diatas ini dikuatkan oleh Professor Philip K. Hitti yang menulis dalam tulisannya yang terkenal, “History of the Arabs” (10th edition, p. 341) tentang kehidupan hedonis Arab-arab kelas atas :

“Hampir semua pelayan adalah budak yang direkrut dari bangsa-bangsa Non-Muslim yang ditangkap secara paksa, dijadikan tahanan pada saat perang atau diperjual-belikan pada saat damai. Budak-budak putih (Mamluk) terutama terdiri dari bangsa Yunani dan Slav (Eropa Timur), Armenia dan Berber. Ada budak yang dianggap eunuch (Khisvan, lelaki yang dikebiri) untuk melayani harem. Ada yang disebut Ghilman, yang juga eunuch, yang disukai tuan mereka dan diberikan seragam indah, mewah, wangi dan bergaya feminin. Tradisi Ghilman eksis di jaman Al-Rashid, tetapi Al-Amin-lah yang, mengikuti preseden Persia, menginstitusikan Ghilman bagi praktek hubungan seksual tidak alami. Hakim dibawah Al-Mamun bahkan sampai menggunakan 400 remaja. Penyair-penyair seperti Abu-Nuwas juga tanpa malu-malu menuangkan cinta kasihnya bagi lelaki-lelaki muda yang tidak berjanggut ini.”

Fakta-fakta historis ini cocok dengan ayat-ayat Al-Quran yang sangat erotik tentang lelaki-lelaki di Surga, yang cantik seperti mutiara, berbusana sutra dan brokat dan mengenakan gelang. Mereka menuangkan anggur dalam gelas-gelas kristal. Jangan salah! Laki-laki ini bukan seperti jongos kita di rumah yang biasanya berwajah burik, kurang gizi, buta huruf, miskin dan tidak modis pula!

Orang Persia mewarisi cinta pada homoseksualitas dari siapa lagi kalau bukan dari Jendral, pemimpin dan Dewa mereka : ISKANDAR ZULKARNAEN dan tentara-tentaranya. Praktek ini disahkan oleh Arab lewat Al-Quran dan Al-Rashid serta Al-Amin adalah pemimpin-pemimpin dunia Muslim yang menganggap orang-orang Yunani ini sebagai Model Kelakuan. Oleh karena itulah para Qazi (hakim-hakim Muslim) yang diharapkan dapat berlaku adil dan menyampaikan keputusan keadilan menurut prinsip-prinsip Islam, TANPA SUNGKAN-SUNGKAN MENYIMPAN HAREM LAKI-LAKI!

BUDAYA MUSLIM DI INDIA

Homoseksualitas, dan khususnya SODOMI, tidak diperkenalkan kepada India oleh Muslim, tetapi dibawah penguasa Muslim, homoseksualitas masuk rumah tangga istana India. Harem laki-laki muda disimpan oleh nawab-nawab Muslim dan aristokrat-aristokrat Hindu di abad ke 16. Raja Babar menulis dengan romantis tentang petualangan cintanya dengan lelaki bernama Baburi di Andezan di Tuzuk-i-Babri. Dargah Quli Khan, pejabat penting di Haiderabad, mematuhi aktivitas homoseksual penting dalam budaya Delhi pada malam invasi Nadir Shah. Memoirnya berjudul ‘Muraqqa-e-Delhi : Ibukota Mughal di jaman Muhammad Shah,’ mengandung cuplikan tentang kehidupan gay selama 3 tahun ia tinggal di Delhi, antara 1739 dan 1741.

Azam Khan, salah seorang aristo Muslim, digambarkan sebagai “tukang tidur dengan anak kecil yang suka cinta gadis-gadis cantik. Begitu ia tahu tentang tersedianya seorang lelaki atau gadis cantik, ia mencoba menjadi pembeli.” Sementara itu, Mirza Munnu, lelaki kelas atas juga sempurna dalam kegiatan sodomi macam ini. Ia bertindak sebagai pengarah kepada para pemula yang juga merasa bangga telah mendapatkan wangsit darinya. Ia mengorganisasikan mehfils (pertunjukan) dimana sekelompok lelaki disediakan. Rumahnya adalah istana milik Shaddad (raja kurang bijaksana dan pendiri Bagh-e-lram, dimana para WTS cantik berkumpul), penuh dengan lelaki dan wanita-wanita yang nampak seperti bidadari…

Sultana adalah lelaki umur 12 tahun, berwarna kulit kecoklatan, yang keolekannya nampak dari caranya menari…Ia adalah kuncup yang bersaing dengan bunga-bunga atau nyala lampu yang menghadapi sinar matahari. Penonton ingin berkali-kali mendengarnya dan dahaga mereka bagi kecantikannya tidak mudah dipedamkan.

Mian Hinga adalah pemuda berkulit putih dan dalam baju putihnya nampak sesegar bunga yasmini. Ia berkumpul diluar tembok benteng Kerajaan…Banyak orang-orang ternama berjalan-jalan untuk pergi ke ‘chowk’ dan berpura-pura membeli barang langka, menonton penampilannya…Ia nampak sesegar pagi yang dicelupkan dalam embun…

Dan walaupun sering diundang, ia tidak pernah mengunjungi siapa-siapa di rumah mereka. Fansnya harus mengunjungi rumahnya jika mereka ingin mendapatkan kenikmatan penampilannya. (Muraqqa-e-Delhi, translated by C. Shekllar and S. Chenoy)

Dalam literatur Sufi, erotisme homoseksual merupakan cara ekspresi metaforis tentang hubungan antara Tuhan dan manusia, dan banyak sajak dan fiksi Persia menggunakan hubungan gay sebagai contoh cinta berahlak.

Walau Al-Quran dan tulisan dini Islam menunjukkan sikap negatif terhadap homoseksualitas, budaya-budaya Muslim tidak mempedulikan homoseksualitas, atau bahkan mengaguminya. Karya-karya klasik syair dan prosa Arab mulai dari Abu Nuwas sampai Seribu dan Satu Malam, memperlakukan orang-orang gay dan seksualitas mereka dengan hormat atau menganggapnya biasa-biasa saja. Bahasa Arab sendiri mengandung perbendaharaan kata-kata yang luas tentang terminologi erotik gay, dengan lusinan kata untuk hanya menggambarkan satu tipe WTS lelaki.

Panggilan erotis oleh seorang lelaki bagi lelaki lain adalah tata krama syair cinta Arab; bahkan sajak yang benar-benar ditulis untuk wanita sering menggunakan kata benda maskulin dan perumpamaan kecantikan lelaki. Asosiasi perasaan homoseksual dengan ketidakmoralan nampaknya merupakan fenomena baru-baru ini (John Boswell, Christianity, Social Tolerance, and Homosexuality).

Kutipan ini datang dari sebuah situs Islam :

“Hukuman dalam Islam bagi siapapun yang mengaku secara terbuka sebagai homoseksual sudah jelas bagi semua orang beriman. Dalam Islam, ‘Hadd’ atau hukuman yang dinyatakan dimuka umum adalah bagi dosa-dosa yang dilakukan secara terbuka. Saat seseorang secara terbuka melakukan dosa yang sudah ditentukan hukumannya oleh Allah (SWT), sudah menjadi kewajiban bagi penguasa Muslim untuk menghukumnya. Tetapi dosa yang dilakukan secara tertutup harus dibereskan oleh sang pelaku dengan Allah (SWT) dengan cara tobat.

3 comments:

  1. Subhanallah....telah tercipta orang penghuni neraka dg membuat penjelasan yg tdk disandarkan dg ilmu. SEMOGA LAKNAT DAN AZAB DARI PEMILIK BLOG SESAT INI TERKIRIMKAN SEGERA DENGAN SIKSAAN YANG TERPEDIH..AMIEN..AMIEN..AMIEN

    ReplyDelete
  2. saya muslim dan saya terkesan dengan penjelasan yang anda paparkan, tapi sayangnya Dogma itu tidak bisa mudah berubah begitu saja, seperti Dogma Nasrani Yesus Itu Tuhan dan mati di Tiang Salib. begitu pula saya, Syahadad saya akan saya percaya dengan kebenaran al-Qur'an dan Kenabian Muhammad s.a.w

    semoga Alloh s.w.t memberimu kesenangan yang engkau inginkan

    ReplyDelete
  3. Insyaflah pemilik blog sesat ini, mumpung nyawa belum sampai di kerongkongan......

    ReplyDelete